Trip Gili Ketapang, Probolinggo

Hengkang sejenak, belajar jadi manusia seutuhnya.


Hai guys, lama sekali ya nggak nge-blog. Ini dikarenakan fasilitas internet di rumah udah dicabut dari Januari lalu. Hehehe. Oke, kali ini saya emang nyempetin banget buat nge-blog karena mau bagi-bagi cerita di trip pertama tahun ini. Yeay!
Sabtu, 25 Maret 2017 lalu, saya diajakin buat traveling dadakan sama temen. Seperti biasa, kami nge-camp, bedanya kali ini bukan di gunung yang pake ndaki-ndakian, tapi ke pulau kecil yang terletak di Probolinggo. Wah, sudah bisa tebak nih di mana? Yup! Bener banget! Kunjungan pertama tahun ini saya pelesir ke Pulau Gili Ketapang. 

Kenapa harus Gili Ketapang?

Kenapa ya? Saya nggak pernah ke sana, dan deket kali ya, juga… karena badget yang dibutuhkan nggak banyak. Waks! Modus pengangguran ini mah. Iya, kan saya masih belom dapat kerja (curhat), otomatis nggak punya tabungan. So, pengen berlibur tapi yang nggak ngehabisin banyak uang, yaudah, ke sini aja.

Kenapa sih dinamain Gili Ketapang?

Sebelum saya celoteh soal liburan kali ini, saya mau bagi-bagi sedikit nih tentang Pulau Gili Ketapang. Dari manakah asal mula pulau ini? Jadi, setelah saya googling, dari setiap artikel itu penjelasannya berbeda-beda. Tapi yang pasti kalau pulau ini dulunya berlokasi di satu daratan yang sama dengan di Desa Ketapang. Kemudian setelah meletusnya Gunung Semeru, daratan yang ada di Desa Ketapang itu pun terbelah dan terpisah satu sama lain hingga 5-8 Mil (Karena ada dua sumber yang mengatakan jarak terbelahnya hingga 8 Mil, namun di Wikipedia mengatakan 5 Mil). Nama Gili Ketapang itu pun berasal dari Bahasa Madura, Gili yang artinya terus mengalir, dan Ketapang berasal dari desa yang terbelah itu. Luas pulau ini pun sekitar 68 ha, dan tercatat jumlah penduduknya pada tahun 2004 sebanyak 7.600 jiwa, namun kemarin temen saya bilang sekarang sudah mencapai 9.000-an. Wah, mayan banyak ya… dan rata-rata penduduknya dihuni oleh Suku Madura dan bermata pencaharian sebagai nelayan. Usut punya usut, bikin satu prahu itu bisa mencapai satu milyar loh… ah, yang bener?

Ada nih legenda Hiu Tutul yang saya denger dari penduduk setempat. Jadi, dulu pulau ini sering sekali didatangi oleh serombongan Hiu Tutul yang mengganggu para nelayan. Setelah diusut, ternyata ada satu nelayan yang memang mencuri anak Hiu ketika berlayar. Alhasil, temen-temen emaknya nggak terima nih, jadinya mereka meneror para nelayan agar si adek bayi  dikembalikan. Dan benar, setelah anak Hiu yang dipiara diam-diam itu dikembalikan pada habitat aslinya, komunitas Hiu tutul ini tak lagi mengganggu para nelayan. Karena sebelumnya ada prahu yang memuat sekitar 25 penumpang digulingkan serombongan Hiu. Serem nggak sih??? Dan setelah kembali, ajaibnya Hiu ini malah bisa diajakin renang bareng. Nah loh… 

Terus… liburannya gimana?


Oke, sekarang saya mau membahas soal liburan dua hari semalam itu. Yup! Saya menginap semalam di pulau itu tepat di bebarapa meter di belakang bangunan masjid Goa Kucing. Jadi, sampainya saya di pelabuhan setelah menyeberang sekitar 30 menit, saya disambut dengan banyaknya kambing dan warga di pesisir pantai. Sempet heran sih kenapa hampir seluruh warga itu berada di luar rumah saat menjelang senja. Ada yang berenang, main layangan, rumpi, sampai tiduran. Di luar ekspektasi, saya kira pulau ini tak padat penduduk dan sunyi-senyap, juga dihuni oleh masyarakat primitive, tapi ternyata…. Enggak! Masyarakatnya memang dihuni oleh suku Madura, yang bahasanya saya nggak paham. Jadi setiap kali ditanya sama penduduk setempat, saya cuma bisa nyengir. Ibuknya ngomong apa ya? (dingdong!)

Setelah transit (ceila bahasanya), untuk menuju tempat perkemahan yang ada di sisi timur (eh, bener nggak sih?), saya endegeng jalan kaki sekitar dua puluh menitan sembari mencari lokasi yang pas. Kami nggak terlalu berinteraksi dengan penduduk setempat karena minimnya bahasa yang dipahami, jadi setiap kali lewat, saya cuma senyum-senyum nggak jelas gitu deh. Sepanjang perjalanan, pemandangan yang saya dapatkan itu cuma penduduk yang duduk cantik di luar rumah, banyaknya kambing yang berkeliaran, dan… sampah. Ini nih yang saya sayangkan, tempat wisata kok modelnya kayak gini? Kenapa nggak dieksport ke Swedia aja sih biar diolah dan pulau ini makin cakep. Lah??? Emang di belakang rumah ente juga udah kelar urusan sampahnya? Ckckck. 


Pas menjelang magrib, kami sampai di Goa Kucing yang berada paling pojok pulau (sisi timur). Di sana kami bertemu sang juru kuncinya tempat itu, sayang… saya lupa namanya. Dengan Pak Jurkun (Juru Kunci) kami diantar mencari lokasi, sampai ketemu di belakang rumah penduduk yang berjarak ratusan meter, lebih dekat ke bibir pantai. Sepanjang kami mendirikan tenda, Pak Jurkun menemani sembari mengobrol. Baik bangetkan sampai ditungguin gitu. Tapi ya gitu, saya nggak paham bener apa yang diucapkan beliau. Usai mendirikan tenda dan ditinggal Pak Jurkun, saya jalan-jalan sebentar melihat-lihat sekitar pantai sebelum langit benar-benar gelap. Anginnya luar biasa sepoi-sepoi, dan nggak dingin. Suasananya justru lembab dan bikin gerah meski anginnya kenceng. Usai jalan-jalan, degeng ngajakin makan malam. Karena memang persiapan untuk liburan yang rencananya cuma 4 orang dan berubah jadi 10 orang, alhasil perbekalan kami terbatas.

Malamnya, sebelum isya’, temen-temen bakar-bakar ikan loh, tapi sayang, karena capek perjalanan, saya milih tidur duluan di tenda. Benar-benar nggak kuat buat melek, keputusan tidur pun menjadi pilihan terakhir. Dan… bangun-bangun baju basah semua. Ternyata, selama saya tidur… saking molornya, saya nggak nyadar kalau hujan deres sampai tenda nggak sanggup nahan air hujan. Apalagi nih tenda sebelah ambruk. Jiah…

Temen-temen kerepotan deh buat ngungsi, untungnya, di Goa Kucing menyediakan dua kamar penginapan, nah di sana kami para kaum hawa diungsikan, sedang para adam tidur di masjid dengan ala kadarnya. Dan tenda, sementara dijaga tiga orang yang bersedia stay di sana secara bergantian.

Mala petaka, ternyata Mas Beye (salah satu temen saya) ditinggal sendirian di tenda tanpa satupun penerangan. Tengah malam dia dibangunkan kambing, hihihi, terus sambil muring-muring jalan ke surau buat manggil yang lainnya. Bukannya ikut khawatir, saya justru ngakak pas denger ceritanya. Akhirnya setengah ngambek Mas Beye dan dua temen lainnya, Mas Gijet dan Mas Inul ikut ke tenda buat ngebersihin tenda yang rusak. Sampai pagi menjelang, saya dan teman saya balik ke tenda dan melihat tenda kami semalam sudah pindah posisi. Segitu kencengnya ya hujan semalam?


Ada yang ngagetin deh pas ngelihat pantai, karena hujan deres banget, airnya surut sampai beberapa meter dan memperlihatkan hamparan karang. Fantastic!!! Saya nggak tanggung-tanggung langsung meluncur ke sana. Sambil cantik dikit cekrek, saya terkesima dengan pemandangan disela-sela karang. Ada ikan-ikan kecil yang stay di genangan air yang tersisa. Dari ikan, tripang, landak laut, keong, bahkan gurita kecil pun kelihatan. Maha besar Allah! Seumur-umur nggak pernah ngelihat yang seperti ini setiap kali main ke pantai. Tapi sayang, pemandangan cantik begini seketika rusak ketika saya melihat bapak-bapak pup di bibir pantai. Duh, apaan coba… merusak kebahagiaan saja, padahalkan sudah disediakan wc umum. Dan tarifnyapun cuma 2000 saja. Masih kalah jauh dengan penghasilan mereka perharinya.

Bayangin deh, pagi-pagi saya hamper 5 kali menemukan fenomena memilukan itu. Yang sampai membuat perut saya penuh. Nggak nafsu makan. Jadi beli makan dikasih ke kucing yang telantar. Oh ya, di sini kambing sama kucing nasibnya hampir sederajat loh. Why?? Mereka juga nyari makannya dari sisa-sisa sampah di pesisir pantai. Bikin ngilu, padahal kambing di sini dibikinin kandang yang always tersedia rumput. Meski cuma makan sampah, perutnya pada tambun.

Karena fanomena tadi, saya jadi ogah buat nyeburin diri ke pantai. Dan, maskot kami, Mas Inul, akhirnya tanya ke juru kunci, pantai sebelah mana yang bisa kami buat mandi. Dan…. Ternyata di ujung barat!!! Sewa kapal nggak mungkinlah ya, berenang apalagi, jadi… kami jalan kaki sekitar 60 menit untuk sampai ke tempat yang di maksud. Yaitu pesisir pantai yang memang diunggulkan untuk wisatawan. Bayangin deh jalan kaki buat sampai di sana itu rasanya….!!! Dari ujung timur ke ujung barat.


Selama nggak nanjak kayak naik gunung, I will be fine. Saya mendapati pemandangan serupa, sampah yang menunpuk di bibir pantai dan banyaknya kotoran kambing di mana-mana. Selain bau amis dan asin, bau pesing pun tak jarang menghampiri penciuman. Duh Gusti, liburan kok gini amat.

Tapi semua kebayar waktu kami sampai di tempat tujuan. Ah, malu rasanya yang pada selfie cantik di pinggiran laut, sedang kami datang dengan tampang dekil karena habis jalan marathon buat sampai ke tempat itu. Tak tanggung-tanggung, saya juga pengen ngeceburin diri buat ngilangin keringet. Akhirnya kami jadi orang terkatrok karena rame sendiri pas mandi di laut. Halah, yang penting bahagia, toh mereka nggak paham gimana perjuangannya buat sampai di sana. 


Semuanya berjalan sesuai harapan, tapi perjuangan nggak sampai di situ. Waktu kami bergegas pulang, dan mencari tumpangan prahu, prahu paling dekat ternyata semuanya sudah diboking. Apes bangetlah… jadi, kami harus ke pelabuhan untuk mendapatkan tumpangan rombongan seperti berangkat kemarin. Dan, untuk sampai ke pelabuhan, kami harus berjalan (lagi) sepanjang satu kilo meter. Allahuakbar!!! Kelar deh hidup aye. Mau nggak mau, yah… dinikmati ajalah meski agak-agak gimana gitu.

Sebelum sampai ke pelabuhan, saya mampir dulu ke bakul ikan untuk membeli oleh-oleh. Lumayan murah sih, ikan kembung satu kilo cuma 10.000, itupun dari hasil perjuangan tawar-menawar. Setelah itu, sayonara deh.


Apa saja sih perbekalan untuk ke sana???Aku kasih saran ya, ini khusus untuk yang nge-camp blusukan seperti saya endegeng

  1. Seperti biasa, kamu siapin semua perlengkapan pribadimu untuk camp pada umumnya. Tapi nggak usah khawatir untuk soal makanan, kalau badgetmu banyak, kamu bisa belanja di sana tanpa harus berat-berat bawa dari rumah, tapi… harap dimaklumi, makanan di sana harganya nggak semiring di Mojokerto.
  2. Baju ganti, karena jelas kamu nggak bakal tahan buat nyeburin diri ke pantai!
  3. Uang receh. Ini penting! Karena setiap kamu masuk toilet bakalan kena tagihan 2000 rupiah.
  4. Nggak usah bawa jaket terlalu tebel, karena cuaca di sana meski mendung tetap pengap.
  5. Sunblock. Dan krim-krim lainnya untuk melindungi kulitmu, kalau tahan sih nggak masalah tanpa barang satu ini.
  6. Aksesoris. Kaca mata dan topi. Ya, ini cuma kalau butuh aja sih. Hehehe
  7. Pakan kucing. Ya, kalau kamu mampir ke Goa Kucing sih, di sana ada beberapa kucing telantar. Kurus banget. Meski gitu mereka nggak maksa buat dikasih makan kok, cuman… alangkah baiknya kalau kalian juga sedekah makanan kering buat mereka.

Berapa sih badget yang dibutuhin?

Sebenarnya cuma butuh 100.000 loh kamu buat ke sana. Karena ada dua alternatif nih buat sampai ke pulau Gili. 

  1. Kamu bisa pakai jasa guide, sampai di pelabuhan nanti kamu bakal disambut beberapa guide yang menawarkan snorkeling. Harganya terjangkau kok, cuma Rp 85.000 saja kamu sudah bisa snorkeling, makan, foto, fasilitas prahu pulang-pergi dan free homestay.  
  2. Kalau cara blusukan seperti saya kemarin, kamu bisa numpang prahu muat yang lebih murah, Cuma Rp 7.000 saja. Tapi sampai di pelabuhan ya, bukan di reast area. Dan bisa menginap di masjid Goa Kucing itu tadi. Kalau memang kamu berniat hanya untuk jalan-jalan tanpa snorkeling loh ya. Untuk makan, harga nasi di sana masih terbilang murahlah, sekitar Rp 7000 sampai Rp 10.000-an saja. 

Nah, mau pakai alternative yang mana? Sesuaikan saja dengan kondisi kamu. ^_^

Terakhir, Kesan dan pesan saya…

Sebenarnya, pulau Gili ini memang sangat menarik. Tapi ada tiga hal yang merusak pemandangan dan kenyamanan. Karena saya sudah jalan kaki mengitari pulau tersebut, sangat disayangkan sekali sepanjang perjalanan yang saya lihat adalah hal yang sama. Mungkin ini adalah factor dari kurangnya kesadaran masyarakat Gili akan kebersihan dan kesehatan lingkungan. Harusnya, pesona pantai itu menjadi nilai utama yang diberikan untuk para wisatawan. Mungkin ini juga salah satu factor kenapa Goa Kucing sepi pengunjung. 

Sampah dan kotoran di sepanjang bibir pantai adalah satu pemandangan yang paling tidak nyaman untuk dilihat. Karena ya, kesannya kayak jorok banget gitu, ada beberapa warga yang mandi bercampur dengan tumpukan sampah, dan di sisi lain yang tak jauh ada beberapa orang yang buang air. Karena hal ini, saya jadi mikir keras. Ini kebiasaan yang keliru.

Selain sampah dan kebiasaan keliru itu, kambing yang sungguh banyak berkeliaran di sana. Seperti yang saya bilang tadi, aroma asin dan amis ditambah dengan pesingnya kotoran kambing. Jangan dibayangin deh. Ini sangat mengganggu sekali. Apalagi dengan wisatawan yang tidak biasa dengan aroma seperti ini.

Nah, segitu saja ya cerita liburannya. Tapi artikel ini adalah tulisan saya yang paling panjang dari traveling lainnya. Semoga bermanfaat, dan selamat berlibur….!!! Ciao~

Kampus Fiksi #10Days Writing Challenge #5

18013435308672ac8d85287580c05479

#Day5 : Film yang berkesan


Kebetulan banget akhir-akhir ini saya demen nonton film. Meskipun lawas nih ya, tapi ceritanya tetep cakep. Jadi, ada beberapa film Jepang yang karena pemainnya Kento Yamazaki, saya jadi tertarik sekali buat nonton. Tapi cuma tiga film ya, padahal saya mau sekalian rekomendasikan banyak film nih.

Lanjutkan membaca “Kampus Fiksi #10Days Writing Challenge #5”

Kampus Fiksi #10Days Writing Challenge #4

5109c66ea0c80ab5e22e0361c1835386

#Day4 : Love not at the first sigh; pertemuan awal dengan doi


Cinta… cinta… ngomongin soal cinta nggak bakalan ada habisnya. Tapi jujur, pertemuan awal tak berefek apa-apa. Hambar. Nggak ada manis-manisnya sama sekali, nggak seperti drama yang tabrakan langsung jatuh cinta, atau tanpa sengaja tangan bersentuhan karena ngambil barang yang sama, sama sekali tidak seperti itu.

Lanjutkan membaca “Kampus Fiksi #10Days Writing Challenge #4”

Kampus Fiksi #10Days Writing Challenge #3

78bda03b856040bfa90795bd39f45c86

#Day3 : 2017 Wish; 5 hal yang ingin tercapai tahun ini

Keinginan saya banyak sekali, tapi lima hal ini yang ingin saya capai lebih dulu. Dan semoga bisa terkabul.

Lanjutkan membaca “Kampus Fiksi #10Days Writing Challenge #3”

Kampus Fiksi #10Days Writing Challenge #2

day-2

#Day2  : Tiga hal yang bikin histeris

Kalau bicara soal hal yang membuat histeris, ada banyak sekali! tapi, karena hanya diminta untuk menyebutkan tiga hal. Yasudahlah, tak mengapa, saya bakal cerita tiga hal yang membuat saya histeris.

Lanjutkan membaca “Kampus Fiksi #10Days Writing Challenge #2”

Kampus Fiksi #10Days Writing Challenge

52d88b1360417fcba9b0e0ad705261c6

#Day1: Lelaki Idaman

Pas manteb banget kalau writing challenge-nya ngomongin segala macam tentang diri sendiri. Dan dari semua pertanyaan yang saya baca tadi, ada beberapa yang ehem banget. Langsung aja deh, kebetulan banget saya pengen cerita tentang beberapa kriteria lelaki idaman yang saya dambakan, namun tak datang-datang. 2017, 24 tahun, dan ditinggal teman-teman kawin duluan, itu rasanya…. (Sesak napas). Saya harap sih postingan ini bisa menggunggah (ceilaa) hati para mas-mas yang ngebaca, (kecuali adminnya Divapress) dan bilang, “Wah… nih cewek gue banget!”. Halah~

Lanjutkan membaca “Kampus Fiksi #10Days Writing Challenge”

Tawaran menulis cerpen di Koran

domgaa

The dream is indeed a dream, but we do not need too much to sacrifice for it. -Merumi

Really, penulis mana sih yang nggak mau ditawarin nulis cerpen di koran? Jika kamu mendapatkan tawaran yang sama, jelas kalian juga akan tertarik untuk mengikuti prosedurnya.

Lanjutkan membaca “Tawaran menulis cerpen di Koran”